CSE

Loading

Rabu, 15 Mei 2013

Routine Antenatal Care

Routine Antenatal Care

Antenatal care should start as soon as the pregnancy is confirmed. A healthy woman with uncomplicated pregnancy should have antenatal check-ups once a month until 32 weeks of pregnancy, then twice a month until 36 weeks of pregnancy and weekly in the last 4 weeks of pregnancy.
The first visit will include a detailed assessment of the woman's health, ultrasound scan to check on the pregnancy and blood tests to check the woman's blood group and any condition that could potentially affect the baby such as Thalassaemia, Hepatitis B, Syphilis, Human Immunodeficiency Virus (HIV) etc.
Subsequent visits will include assessment of the woman's well-being, weight, blood pressure, urine tests (for sugar and protein) and growth of the fetus. Additional tests and ultrasound scan may be offered depending on the clinical condition of the woman and/or the fetus.
 

Selasa, 14 Mei 2013

Global Midwifery and the Technologies of Emotion

Global Midwifery and the
Technologies of Emotion
Maria Fannin
1
School of Geographical Sciences, University of Bristol, Bristol, United Kingdom
Email: mfannin@bristol.ac.uk

Abstract
This paper examines the emergence of activist organizations promoting
midwifery as a “global” practice. New organizations like the International Alliance
of Midwives link individual midwives and midwifery advocates through  Internetbased  chat rooms, websites, and  discussion  lists. These organizations draw
productively  on  representations of midwives as world  citizens to  establish  new
forms of connection, fostered  in part by  technological developments in
communication  that posit direct links between  local activists through  a global
network. Yet what kinds of visions are forged through invocations of midwifery’s
globality? Differences in the political, cultural, and economic status of midwifery
worldwide complicate the efforts of midwives to  advocate for a global political
midwifery movement. By examining the “global” as a site of emotional investment,
I demonstrate how midwives’ attempts to map “tradition” and “technique” reveal
attachments to particular ways of imagining the world.

Minggu, 21 April 2013

mutu layanan kebidanan, konsep dasar mutu layanan kebidanan


Konsep Dasar Mutu Layanan Kebidanan
http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc7/373602_449574315072974_1139193437_n.jpg
Nama               : Dara Tiarani
Tingkat            : Ib
Nim                  :124110454
Dosen              : Eravianti,S.SiT,MKM
Mata kuliah      : Mutu Layanan Kebidanan
Semester         : II (dua)

Prodi D III kebidanan Poltekkes Kemenkes
Padang
Tahun ajaran 2012 / 2013


Konsep Dasar Mutu Layanan Kebidanan
A.    Pengrtian Mutu
Menurut Din ISO 8402 (1986) : Mutu adalah:
Totalitas dari wujud serta ciri dari suatu barang atau jasa, yang di dalamnya terkandung sekaligus pengertian rasa aman atau pemenuhan kebutuhan para pengguna Mutu merujuk pada tingkat kesempurnaan dalam memberikan kepuasan pada pengguna layanan. 
Mutu lalayanan kesehatan adalah:
Sesuatu yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan, yang di satu pihak dapat menimbulkan kepuasan pada setiap pasien sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta di pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan.
Menurut JCAHO (1993)²Mutu" adalah:
 Tingkat dimana pelayanan kesehatan pasien mendekati hasil yang diharapkan dan mengurangi faktor-faktor yang tidak diinginkan. Layanan kesehatan yang bermutu adalah suatu layanan kesehatan yang dibutuhkan, dalam hal ini akan ditentukan oleh profesi layanan kesehatan, dan sekaligus diinginkan baik oleh pasien/konsumen ataupun masyarakat serta terjangkau oleh daya beli masyarakat .
Pengertian Mutu secara umum adalah:
Dimana terjadi suatu keadaan yang dinamik yang diasosiasikan dengan produk, jasa orang, proses, dan lingkungan yang mencapai dan melebihi harapan.

B.     Dimensi Mutu
Ada delapan dimensi mutu yaitu:
1.  Kompetensi teknis (keterampilan, kemampuan, melaksanakan protap)
2.  Akses terhadap pelayanan (geografis, ekonomi, sosial, organisasi dan bahasa)
3.  Efektifitas (tepat guna, sembuh)
4.  Hubungan antar manusia (interaksi petugas-pasien)
5.  Efisien (pelayanan lengkap)
6.  Kesinambungan (pelayanan lengkap)
7.  Keamanan (meminimalkan resiko)
8.  Kenyamanan (kepuasan)

Penilaian mutu pelayanan kesehatan sangat bersifat multi dimensional. Robert dan Prevost dalam Azwar (1993) telah membuktikan adanya perbedaan dimensi mutu sebagai berikut:
1.  Bagi pemakai jasa pelayanan kesehatan, mutu pelayanan kesehatan lebih terkait pada dimensi ketanggapan petugas atas kebutuhan pasien, kelancaran komunikasi atau kesembuhan atas penyakit yang diderita.
2.  Bagi penyelenggara pelayanan kesehatan, mutu pelayanan kesehatan lebih terkait pada dimensi kesesuaian pelayanan dengan perkembangan ilmu dan teknologi mutakhir dan otonomi profesi.
3.  Bagi penyandang dana pelayanan kesehatan, mutu pelayanan kesehatan lebih terkait pada dimensi efisiensi pemakaian dana, kewajaran pembiayaan atau mengurangi kerugian penyandang dana pelayanan kesehatan

C.    Persepsi Mutu
Mutu pelayanan kesehatan menunjuk pada tingkat kesempurnan pelayanan kesehatan, yang di satu pihak dapat menimbulkan kepuasan pada setiap pasien sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta di pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan.
-       Klien : Sembuh, ramah, tepat waktu dan biaya terjangkau
-       Provider / petugas : Pelayanan bermutu, kemampuan optimal, sumber daya tersedia
-       Manajer Kesehatan : Menyediakan kebutuhan pasien dan provider, misalnya sumber daya, jadwal pembayaran, ketenangan dan pelaksanaan manajemen




Menurut Jacobalis (1989), mutu pelayanan dapat dilihat dari dua pendekatan:
1.  Pendekatan kesehatan masyarakat (public health)
Pendekatan ini menyangkut seluruh sistem pelayanan kesehatan dan derajat kesehatan masyarakat dalam suatu wilayah maupun negara. Dalam hal ini misalnya:
- kelangsungan hidup ; angka kematian bayi
- angka morbiditas
- angka kecacatan
2.  Pendekatan institusional atau individu
Pendekatan ini menyangkut mutu pelayanan kesehatan terhadap perorangan oleh suatu institusi atau fasilitas seperti rumah sakit. Disini mutu adalah produk daripada sumber daya dan kegiatan fasilitas itu.